Wisata dan Usaha

Bersujud di Mushola Diponegoro Desa Menoreh

Di Magelang ada sebuah langgar. Mungkin kamu belum tahu apa itu langgar. Betul, langgar adalah masjid tapi kecil. Nama lainnya surau atau mushola. Tapi, meski resmi dinamakan langgar, namun langgar yang ini berstatus masjid. Karena ukurannya yang tidak lagi kecil.

Masjid itu dikenal sebagai Langgar Agung. Disitu dahulu Pangeran Diponegoro dikabarkan pernah shalat saat memimpin pasukannya yang legendaris.

Menurut kisah setempat, awalnya tempat itu sepetak kecil bebatuan yang ditinggikan. Ukurannya hanya 4×4 meter. Tempat ini pernah digunakan untuk sholat Pangeran Diponegoro. Itulah mengapa, warga sekitar bersikukuh untuk melanggengkan sebutan Langgar Agung. Mushola yang agung. Yang memiliki nilai sejarah.

Meski bernilai sejarah, ketika pemerintah berniat membuat patung Pangeran Diponegoro, masyarakat desa Menoreh menolaknya. Bahkan pemerintah kabupaten Magelang mengadakan pemilihan suara. Dan hasilnya, patung tidak didirikan dan lokasi itu tetap digunakan seperti semula: mushola. Sehingga pemerintah pun mengalah dengan membangun masjid saja.

“Karena dulu ini tempat sholat,” kata santri Nurul Falah bernama Badrul Massad. Pesantren Nurul Falah yang dipimpin oleh Muhammad Nur Shodiq kini berdiri di tempat itu. Dibangun sekitar 1980-an. Pengurus pertama pesantren ini Adalah almarhum Kyai Fathoni dan wakilnya Kyai Muhammad Nur Shodiq ini.

Di Langgar Agung kamu bisa menjumpai Al Qur’an tulisan tangan Sang pangeran. Bukan satu, tetapi ada dua AL Qur’an, satu di Museum Diponegoro di Kota Magelang, satunya lagi di Pesantren Nurul Falah di Langgar Agung ini. Tidak seperti zaman sekarang yang dicetak mesin percetakan hasil komputer, Quran itu hasil torehan tangan dan dihiasi batik gaya Yogyakarta. Namun demikian, bentuknya sangat rapi meskipun kondisinya kini sudah sangat rapuh.  Konon, tulisannya dikerjakan dengan alat tulis yang dibuat dari pohon aren.

Di sini, di Langgar Agung ini, kamu bisa shalat seperti Diponegoro. Berdoa seperti Diponegoro. Bermujahaddah seperti Diponegoro.

Cerita ini dikonfirmasi oleh kepala dusun Kamal, Roso. “(Kepala desa) waktu itu mbah Kholil,  dan statusnya cuma petilasan, bukan peninggalan Sejarah,” Roso melanjutkan “Cuma tempat istirahat.”

Saat Pangeran Diponegoro bermunajat di sini, pasukan pengiring beliau bermukim di Desa Ngargoretno. Berjarak sekitar empat kilometer dari tempat itu. Menurut catatan, dikisahkan pasukan Diponegoro selalu berzikir dan berkepala gundul. Alias tanpa rambut. Kepalanya plontos.  “Tepatnya di Goa Lawa. Goa Lawa itu kini jadi Museum Alam Marmer,ā€ tambah Badrul. Museum marmer itu kini ditutup, karena sudah mulai rapuh dan ditakutkan akan mudah runtuh.

Diponegoro dan Menoreh

Kalau kamu mendengar nama Menoreh, kemungkinan ada dua hal yang terbetik. Pertama, mungkin sebuah kisah dunia kependekaran yang ditulis S.H. Mintardja tahun 80-an. Seri Api Di Bukit Menoreh. Atau sebuah daerah perbukitan yang membatasi wilayah Magelang dan Kabupaten Kulon Progo.

Nah, Lokasi Langgar Agung ini, adalah cikal bakal nama Menoreh tersebut. Desa inilah yang bernama Menoreh. masjid Langgar Agung ini tepatnya ada di Dusun kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Magelang.

Menurut tetua desa, nama Bukit Menoreh berasal dari kisah dua orang seperguruan. Salah satu orang bernama Manu. Suatu kali, mereka berada dalam sebuah perjalanan jauh. Tujuan mereka berdua adalah puncak Gunung Kunir. Manu berjalan terlalu cepat sehingga temannya tertinggal, dan terengah-engah kemudian terus memanggil Namanya: Manu. Sepanjang jalan itulah yang kemudian kita kenal dengan Perbukitan Menoreh.

Menoreh, di Sebelah utara, sampai Goa Selarong di Selatan, menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah.

Jika kamu ingin lebih tahu soal sosok Diponegoro, saat ini jubah dan meja kursi tempat perundingan itu bisa dilihat di Museum Diponegoro di Magelang. Salah satu dari dua museum Pangeran Diponegoro memang ada di Magelang. (Satu museum lainnya ada di Yogyakarta. Selain itu, peninggalannya ada di Makassar, menjadi tempat menyimpan kisah di mana beliau diasingkan, meninggal, dan dimakamkan).

Selain jubah dan Al Qur’an tulisan tangan, di museum Pangeran Diponegoro Magelang terdapat koleksi kursi yang terdapat goresan tangan beliau. Guratan pada kursi itu menyiratkan kemarahan Sang Pangeran karena ternyata Belanda menjebaknya.

Belanda memang bertindak tak kesatria. Perang yang kemudian lebih dikenal sebagai Perang Jawa itu atau De Java Oorlog telah membuat bangkrut Belanda. Perang selama lima tahun (1825-1830)  itu menelan korban sekitar 200 ribu penduduk meninggal dunia. Baik dari pihak Belanda maupun dari pihak Diponegoro.

AKhirnya, Belanda menyelenggarakan sayembara 20 ribu gulden untuk siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Maka, diaturlah sebuah jebakan. Diponegoro ditipu. Dengan koordinasi dan muslihat yang matang. Saat itu, Diponegoro hadir seorang diri. Belanda menangkapnya. Kemudian Jendral Merkus de Kock membawa pangeran Diponegoro ke Sulawesi.  De Kock ingkar janji. Lebaran hari kedua itu menjadi duka. Diponegoro diasingkan ke Manado. Berakhirlah perjuangan lima tahun itu.*** (Tulisan: Anggoro Gunawan, Magelang)

About the author

Anggoro Gunawan

Leave a Comment