Catatan Ujungaspal

Pendidikan Anak Berbasis Karakter, Awal Lahirnya Wirausahawan

Pendidikan-Anak
Written by Kang Amin
Pendidikan Anak. (ujungaspal.com) Kemajuan sebuah negara sangat dipengaruhi jumlah pengusahanya. Menurut studi, minimal 2% warga negara harus jadi wirausahawan alias entrepreneur.

Indonesia menurut hasil survey tahun 2016 baru memiliki 1,5 %  pengusaha! Wow, masih diperlukan 1,7 juta pengusaha lagi untuk mencapai 2%. Sekedar perbandingan, Malaysia memiliki 5 % pengusaha sedang Singapura 7 %. Mengapa presentase pengusaha kita sangat sedikit, padahal sumber daya alam Indonesia begitu banyak?

Pendidikan Anak dan Mental Pengusaha
Nukilan yang disampaikan Dr. Ratna Megawangi, pendiri Indonesia Heritage Foundations (IHF) atau Yayasan Warisan Nilai Luhur Bangsa, di hadapan peserta pelatihan guru PAUD 24 Januari lalu memberikan perspektif yang mendasar dan sering dikecilkan.

Pendidikan-Anak-1

Training Guru untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Anak Indonesia (Foto: ujungaspal.com)

Intinya adalah mental entrepreneurship yang tidak terbangun dengan layak pada generasi kita. Mental entrepreneur adalah tidak takut salah, berani mengambil resiko, tidak mudah menyerah, jujur dan dapat dipercaya.

Dalam perspektif Dr. Ratna yang menekuni dunia pendidikan anak usia dini dan mendirikan IHF sejak tahun 2000, nilai-nilai tersebut aslinya sudah ada pada diri anak-anak namun karena cara didik yang keliru potensi tersebut hilang bahkan digantikan mental yang berkebalikan.

Cara didik yang mengedepankan nilai, ranking, hukuman, hadiah, bahkan sikap pendidik maupun orang tua yang memberi label, memojokkan bahkan memarahi dan memvonis adalah awal mula hilangnya mental positif anak-anak. Emosi negatif kemudian muncul, bahkan mendominasi, sehingga ketika dewasa berbagai perilaku tidak produktif muncul.

Memupuk Entrepreneurship Sejak Balita
Tidak ada kata lain saat ini yang harus dilakukan untuk memajukan dunia usaha masa depan adalah dengan membenahi cara pendidikan anak bahkan sedari mereka masih usia dini.

Semua guru dan orang tua pasti berpikir agar anaknya maju. Mereka menyayangi anak-anak. Tetapi cara mendidik dan cara menyayangi ini yang harus dipelajari dan diluruskan sehingga potensi anak bermental wirausaha tetap terjaga, meski apapun profesi mereka nantinya, pegawai negeri sekalipun.***

2 Comments

Leave a Comment