Potret Wirausaha

Mega Adil: Tepung Bumbu yang Membawa Berkah

megaadil

Acara UKM expo tengah berlangsung di gedung Smesco UKM Gatot Subroto Jakarta. Saat itu pertengahan tahun 2009. Seorang pengunjung yang berasal dari Kebumen tak bisa menahan emosi saat melintas di depan  stand  yang bertuliskan “Tepung Mendoan Mega Adil.” “Ini pasti milik tetangga saya, dari Kebumen. Siapa pemilik usaha ini?” Tanya Bapak yang polos itu setengah histeris dengan kagum bercampur syukur dibumbui harapan bertemu dengan ‘orang sukses’ yang berasal dari kampung halamannya.

Saat itu Bu Mega (40) yang sedang berjaga di stand tersebut menjadi serba salah dan kikuk menanggapi luapan emosi sang Bapak yang terus memaksa bertemu Sang Pemilik. Tak heran kalau sosok ibu yang bersahaja itu menjadi serba salah, karena sesungguhnya ia lah pemilik usaha produsen tepung mendoan Mega Adil yang terpilih oleh Indofood Sukses Makmur (ISM) menjadi exhibitor karena menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memakai produk ISM terbesar di wilayah Bekasi itu.

Kekikukan Bu Mega disebabkan beberapa hal. Yang paling mendasar adalah Ibu seorang putri ini memang tidak nyaman kalau terlalu diekspos sebagai pemilik usaha yang sejatinya telah mempekerjakan tak kurang dari tujuh orang dengan omzet puluhan juta per bulan. Penyebab berikutnya adalah, karena ia bukan orang asli Kebumen seperti harapan sang Bapak tadi!

Jalan Hidup Mendoan

Kesungkanan berikutnya adalah karena usaha yang digelutinya adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh ‘ketidaksengajaan’ alias berkah dari Yang Maha Kuasa. Mega Adil adalah buah dari perjuangan dari nol dengan kesabaran khas pedagang kecil.

Kisah bisnisnya dimulai dari hidup susah sebagai pedagang sayuran yang berpenghasilan pas-pasan cenderung kekurangan bersama sang suami. Sayur mayur yang ia jajakan, diambil dari pasar Pondok Gede pada dini hari kemudian dijajakannya di kampungnya di bilangan Jalan Radar. Keluarganya, ia dan suami serta anaknya, tinggal dalam rumah sederhana yang selalu bocor saat hujan, meskipun sebenarnya keluarga besarnya adalah pengusaha tahu yang lumayan sukses. Tetapi perjuangan keras dan kemandirian sepertinya memang bagian dari hidupnya.

Dari berjualan keperluan dapur itu, ia mengenal sebuah makanan yang ia sendiri tidak pernah tahu sebelumnya. Namanya mendoan. Kala itu ia sudah memiliki beberapa pengecer dagangan sayurnya, sehingga mendoan mentah itu pun menjadi mata dagangan mereka.

Bu Mega yang asli Bandung itu penasaran dengan makanan mendoan yang ternyata tak pernah sepi peminat. Akhirnya ia mencari buku mengenai makanan ini. Hasilnya, ia pun memahami seluk beluk mendoan. Ia baru ngeh bahwa jenis tempe ini biasanya digoreng dalam waktu singkat saja, dan dinikmati saat panas dengan sambal kecap khusus atau cabai rawit hijau.

Juragan mendoan tempat Bu Mega mengambil dagangan suatu saat mengenalkan tepung berbumbu yang disebutnya tepung mendoan. Dagangan baru tersebut dijual untuk mendampingi tempe yang sudah memiliki pelanggan setia. Dan ajaib, dagangan itu laris manis. Tetapi masalah besar kemudian timbul manakala semua <em>reseller</em> diharuskan membayar dimuka jika masih ingin mengedarkan tepung yang selalu dinantikan para pelanggan itu.

Jangankan membayar dimuka, uang sisa saja bisa dikatakan sangat minim yang diterima Bu Mega saat itu. Akhirnya ia tak lagi menjual tepung laris tersebut yang berarti melepaskan sebuah mata dagangan favorit pelanggan. Ia sejenak hampir menyerah, melupakan dagangan itu. Sampai ia menyadari bahwa permintaan akan tepung itu justru tak pernah kendor dan mendorong otaknya untuk berpikir, ‘mengapa tak membuatnya sendiri?’

Mulailah ia mempelajari bagaimana membuat tepung mendoan tersebut. Singkat kata, produknya diterima pasar meski ia belum berani mengakui bahwa itu adalah buatannya sendiri. Namun lambat laun semangatnya semakin terpacu untuk mengembangkan usaha ini dengan membuat <em>packaging</em> yang lebih baik. Awalnya ia menyablon sendiri plastik dan membeli alat las plastik yang ‘mahal’ saat itu. Tapi ia yakin bahwa penampilan yang baik akan mendorong kepercayaan konsumen.

Benar saja, sejak ia memulai usaha ini tahun 2005, tiga tahun kemudian produknya sudah dikenal luas. Bu Mega di masa awal usaha hanya menghabiskan 1,5 kilogram tepung terigu per hari, kini ia tak kurang mengedarkan 150 sak tepung terigu per hari. Urusan finansial saat ini bukan lagi masalah untuk keluarganya. Karena tepung produksinya bahkan sudah masuk pasar dimana budaya makan mendoan lebih dahulu tumbuh seperti kota-kota di Jawa Tengah.

Membalas Kesungkanan

Kekaguman orang Kebumen akan tepung Mega Adil membuat Bu Mega ingin sekali menghabiskan waktu di kota itu, menikmati mendoan pagi, siang dan sore, sebagai penghargaannya terhadap sebuah bentuk budaya kuliner yang mengantarkan diri dan keluarganya menjadi terentaskan, dari papa sengsara secara ekonomi menjadi berkecukupan saat ini.

Perjalanan Bu Mega mencapai kesuksesan usaha sangat menginspirasi. Produknya yang unik, daya juang yang tangguh serta semangat belajarnya memungkinkan usaha sederhana yang dilakoninya dahulu, berbuah keberhasilan usaha yang diakui bahkan oleh produsen besar sekelas Indofood.***

Inspirasi dari Mega Adil:

  1. Usaha adalah melakukan apa yang paling mungkin, sekecil apapun itu.
  2. Bergerak terus dalam keadaan apapun untuk memperkaya pengalaman diri.
  3. Berinovasi sesuai dengan perkembangan usaha.
  4. Menjalin silaturahim dengan banyak orang adalah sumber ide, kadang perlakuan dari orang yang tidak menyenangkan kepada kita, ada hikmah yang bisa diambil. Tetap positif.

2 Comments

Leave a Comment