Catatan Ujungaspal

Kali Jakarta dan Para Penjaganya

Written by Kang Amin
Sejak Jokowi menjabat gubernur DKI kemudian dilanjutkan oleh Basuki TP, gaung normalisasi sungai-sungai di Jakarta teramplifikasi oleh sorotan media yang mengarah pada aktivitas mereka. Namun tak banyak yang paham, bahwa urusan mengembalikan sungai kembali seperti seharusnya dan seperti semula, sudah dilakukan pendekar-pendekar kali Jakarta jauh sebelum mereka menjadi orang nomor 1 di bumi Jayakarta ini.

Kali Jakarta. Tulisan ini tanpa disengaja berbarengan dengan hajatan pemilihan Gubernur Jakarta yang akan bertugas 2017-2022, penulis juga baru disadarkan dari rangkaian pertemuan dengan para tokoh pembela sungai baik via telepon maupun tatap muka, disadarkan bahwa normalisasi sungai di Jakarta telah dimulai oleh inisiatif masyarakat sejak lama. Pemerintah seharusnya sudah memalingkan perhatiannya ke arah aliran sungai dari hulu di daerah selatan hingga muara di Laut Jakarta.

Banjir yang semakin sering dan semakin tinggi kerusakan yang ditimbulkan sedikit demi sedikit memaksa pemerintah menengok sungai dan saluran air Jakarta. Sesungguhnya sudah cukup terlambat, karena normalisasi dilakukan manakala daerah tangkapan air dan sempadan sungai hampir di seluruh sungai yang mengalir melewati Jakarta telah penuh dengan bangunan perumahan penduduk, rumah real estate, gedung perkantoran dan bisnis hingga villa-villa.

Di awal pemerintahan Jokowi, Gubernur asal jawa tengah tersebut mengunjungi Hutan Kota Kali Pesanggrahan dan Komunitas Ciliwung Condet untuk melihat langsung bagaimana sungai di Jakarta di rawat oleh masyarakat. Nyaris sendirian. Komitmen untuk membenahi sungai ditancapkan. Selama lima tahun terakhir hasilnya sudah lumayan terasa. Kali-kali di wilayah urban mulai terlihat semakin bersih.

Normalisasi sungai kadangkala dipahami sebagai pembersihan dari kotoran saja. Padahal normalisasi seharusnya memikirkan pula keberlangsungan kehidupan yang menggunakan sungai sebagai habitat. Sementara itu dalam pemahaman ilmiah yang benar, sungai adalah seluruh bagian mulai dari palung hingga sempadan. Sehingga normalisasi sungai seharusnya adalah menormalkan kondisi sungai dan kondisi sempadannya.

Dalam kasus sungai di wilayah perkotaan, normalisasi akhirnya mau tidak mau dilakukan dengan cara pembetonan bibir sungai agar kedalaman air terjaga, abrasi terkendali dan pengawasan terhadap pengotoran sungai lebih mudah. Metode ini pun banyak dilakukan di sungai-sungai di kota-kota lain di dunia ini. Namun, sekarang ini gerakan mengembalikan bibir sungai dan sempadan sungai seperti aslinya juga sedang marak di dunia. Akankan sungai-sungai di seputar Jakarta nantinya akan di beton seluruhnya?

Bertemu dengan para penggiat lingkungan utamanya yang menjaga sungai dari kerusakan, membuka mata bahwa kearifan alam seharusnya dikedepankan dalam program normalisasi sungai. Jika sempadan sungai memang telah menjadi pemukiman yang tak mungkin dibuka, mungkin betonisasi bibir sungai menjadi jalan erakhir yang harus ditempuh. Namun sungai yang masih memiliki lahan terbuka sebagai area tangkapan airmaupun sempadan, seharusnya didekati dengan metode yang lebih ramah lingkungan.

Babeh Idin, nama akrab H. Chaerudin pelopor perkumpulan Sangga Buana di bantaran kali Pesanggrahan mempraktekan selama berpuluh tahun cara memperkuat tebing sungai dengan tanaman bambu lokal sehingga sempadan sungai tetap terjaga, aliran sungai terkendali dan kualitas air tetap baik.

H.-Chaeruddin Kali Jakarta

H. Chaeruddin, melestarikan sungai Pesanggrahan dengan memotori kepedulian terhadap kebersihan sungai dan ketahanan bantaran kali dengan kearifan lokal. Foto: Ujungaspal.com

Wilayah Hutan Kota Sangga Buana di daerah Karang Tengah, menjadi contoh nyata bagaimana memelihara sempadan sungai dengan kearifan lokal. Tantangan untuk menjalani prinsip ini memang tidak mudah. Alih fungsi lahan menjadi pemukiman yang terus menuju sungai menyebabkan harga tanah sangat tinggi bahkan tidak masuk akal. Seringkali ini menggiurkan warga untuk melepas tanah demi uang yang memang sangat banyak.

H. Chaeruddin menegaskan prinsip hidupnya bahwa sungai harus dijaga, karena sungai adalah sumber kehidupan manusia. Merusak sungai sama dengan membunuh diri sendiri.

Segendang sepenarian dengan Babeh Idin, Komunitas Ciliwung yang awalnya dari Komunitas Ciliwung Condet saat ini sudah tersebar sejak wilayah hulu di Puncak, Bogor hingga Depok. Mereka terus berupaya mempertahankan kali Jakarta sebagai wilayah lestari. ***

Leave a Comment