Pemasaran

Disintermediasi: Toko Modern Sirna, eh Warung Malah berjaya!

Ini masih ngomongin soal jaman digital. Jaman yang ditandai ponsel pintar merebak dengan harga terjangkau. Semua orang terhubung dengan kecepatan makin tinggi. Demikian juga jumlah aplikasi makin membludak.

Salah satu tanda jaman ini yang juga sedang seru dibincang orang adalah, diisintermediasi atau disintermediation. Bahasa umumnya adalah hilangnya perantara.

Ya, memang sejak adanya aplikasi e-commerce seperti tokopedia, bukalapak, sophee dan lain-lain, tak diperlukan lagi toko pengecer. Produsen bisa langsung memajang barang di toko virtual.

Tutupnya jaringan pasar swalayan Giant di beberapa tempat. Seperti membenarkan sinyalemen disintermediasi ini.

Kejayaan Warung?

Warung dulu pernah diprediksi bakal sirna, karena bertebarannya minimarket dan supermarket sampai tingkat kecamatan. Mereka semua itu pada dasarnya adalah pengecer alias perantara.

Di Amerika, Amazon.com dituding sebagai penguasa tunggal retail di sana. Tumbuh meraksasa sehingga minimarket di sudut pemukiman yang dulu selalu muncul di film-film. Kini semakin hilang.

Di Indonesia ada yang berbeda. Kini warung kelontong menjadi saluran distribusi yang diincar pelaku start up digital masa kini.

Warung didigitalisasi dan digadang menjadi saluran pemasaran mumpuni di masa depan.

Sebenarnya digitalisasi warung sudah dimulai sejak BNI, BRI atau Bukalapak dan Paytrend menggunakan warung sebagai outlet pembayaran listrik, telepon, top up ponsel, BPJS, dll.

Warung jaman now sepertinya akan makin moncer. Memang, cara berjualan dalam saat ini masih akan tetap: pelanggan datang dan transaksi. Digitalisasi baru masuk melalui model Online to Offline (O2O). Contohnya adalah cara kulakan yang berformat digital.

Layanan produk keuangan digital yang bisa diakses di warung juga menjadi mata dagangan baru yang menguntungkan.

Geliat warung kelontong yang makin panas, sudah terbaca dari masuknya beragam start-up dengan modal besar, untuk menggarap warung. Seperti dulu Gojek menggarap tukang ojek.

Sebut saja Mitra Bukalapak, Kioson, Alfamart, Kudo, SRC, Wahyoo, dan yang terbaru Warung Pintar yang sudah tancap gas mendigitalisasi warung. Disektor keuangan BNI, BRI dan BTPN sudah juga menjadikan warung sebagai mitra mereka.

Warung sepertinya menuju kejayaannya, ditengah tumbangnya para pengecer besar. ***

Leave a Comment