Potret Wirausaha

Big Bag Koempeni Jogja: Bertahan Karena Kualitas

Persaingan terjadi di setiap jenis usaha. Pun bisnis industri rumahan pembuatan tas. Di Jogja, Big Bag Koempeni mengalami tantangan persaingan harga hingga tenaga kerja. Namun Bob, pemiliknya, tetap gigih mencari jalan keluar.

Liputan Big Bag Koempeni oleh TV bisnisukk,com

Bertahan dan mencari jalan keluar dari masalah. Itulah inti dari pertahanan industri baik kecil maupun besar. Persaingan harga adalah salah satu bentuk perang yang tidak sehat di pasar. Siapa memiliki modal kuat, akan bertahan paling lama dalam perang itu. Bisanya setelah musuh-musuhnya mati, ia akan menjadi the last man standing alias yang bertahan hidup dan bisa mempermainkan harga sesukanya.

Oleh karena itu Big Bag Koempeni tak mau larut dalam persaingan harga. Bob yang memiliki nama lahir Hadi Satria Wibawa, meyakini kualitas layanan akan diingat oleh konsumen pada saatnya. “Jika Anda menjalankan usaha, bertahanlah dengan kualitas, biar saja yang lain menurunkan harga.” katanya pada ujungaspal.com.

Karena, menurut pria kelahiran Jogja 46 tahun yang lalu itu, kualitas produk pada ujungnya akan menjadi trade-mark yang menuntun orang untuk kembali, biasanya setelah dikecewakan oleh si harga murah. Kesabaran memegang peran penting di sini.

Bib Bag Koempeni termasuk konservatif dalam pemasaran. Media sossial memang penting untuk mengenalkan usaha. Namun kekuatan rekomendasi mulut ke mulut jauh lebih meyakinkan konsumen. “Jangan berpikir promosi yang extravagansa, lebih baik konsentrasi pada kualitas. Pelanggan Anda akan menjadi pemasar yang handal dan tanpa bayar.” ungkap Bob setengah berseloroh.

Berfokus di produk tas berbahan kain sintetis maupun tiruan kulit, Big Bag Koempeni melayani konsumen dalam kota Jogjakarta maupun luar daerah. “Harus diakui, jasa internet dalam pemasaran jarak jauh memang ada.” kata pria yang juga aktivis klub pecinta mobil Daihatsu Zebra Jogjakarta ini.

Ragam produk Big Bag Koempeni mulai tas totte bag hingga tas distro. Tas shopping-bag seminar hingga tas ransel atau travel bag. Bahkan Big Bag Koempeni juga sempat melahirkan brand Vode untuk tas distronya.

Menyiasati Problem Tenaga Kerja

Kerlangsungan usaha tak lepas dari pekerja. Keberadaan karyawan, bagi Big Bag Koempeni begitu vital. Karena dari 10 orang penjahit ketika pergi satu orang, artinya sudah 10% hilang, dan produksi bisa terganggu, ungkap Bob. Oleh karena itu is kembali mencari jalan keluar dari ketergantungan pada karyawan dengan bekerjasama dengan banyak penjahit rumahan yang akhirnya bisa menjadi andalan mankala karyawannya berkurang drastis.

“Karyawan Kita Tak sebanyak dulu. Namun berkat kemitraan dengan penjahit rumahan, kami tetap bisa bertahan.” uangkapnya mengakhiri perbincangan.***

Leave a Comment